Kami sudah kenal sejak lama, namun baru bertegur sapa di akhir tahun 2024 saat Fia di Purwakarta,
Naufal di Kalteng. Kami mulai ngobrol intens karena merasa cocok saat berkomunikasi & sharing
ilmu. Pertemuan pertama yg singkat, setelah 3 bulan menjalani masa pendekatan via telp, sosmed.
Awal Januari 2025 kita bertemu di Tasikmalaya.
Sebulan kemudian, Februari-Maret 2025 saat ramadhan Qadarullah Fia jatuh sakit, 2x pindah RS
hingga perlu perawatan intensif jangka panjang 2bln sampai harus operasi besar hingga terbaring
kritis di ruang ICU bahkan penurunan kesadaran pascaoperasi.
Di pertemuan kedua, Naufal yg masih cuti & menunggu untuk proyek selanjutnya, memilih
mengorbankan waktunya untuk menjaga Fia selama 2 bulan di RS. Naufal selalu ada, menjaga,
merawat, membantu memulihkan ingatan & belajar jalan kaki, menemani dengan tulus penuh
kesabaran.
April 2025 saat kondisi fia mulai pulih, kedua orang tua Naufal yg sedang cuti tahunan lebaran dari
dinas luar Pulau kemudian bersilaturahmi ke Bandung menemui keluarga Fia. Di luar dugaan, yang
tadinya hanya menjenguk melihat kondisi Fia, malah berubah jadi perbincangan hangat & serius
untuk merencanakan hal baik di tahun depan (April 2026). Setelah itu Naufal kembali ke Kalimantan,
orang tuanya kembali ke Merauke.
Pertemuan kami memang singkat. Kami belajar memahami sifat satu sama lain seiring waktu sambil
mempersiapkan pernikahan meski harus LDR dengan keterbatasan jarak, komunikasi & perbedaan
waktu.
Jika Allah yang menulis kisahnya, maka jarak bukanlah penghalang, hingga akhirnya kami percaya,
Allah selalu merancang cerita terindah pada waktu yang tepat. Dari perjalanan singkat yang penuh
makna, kami belajar tentang ketulusan, kesabaran & saling menyayangi tanpa bertemu.
Alhamdulillah semuanya lancar atas izin & ridho Allah SWT.
Terima kasih kepada orang tua, keluarga & sahabat yang selalu mendo'akan dan mendukung
perjalanan kami. Semoga senantiasa sehat, langkah ini menjadi awal dari kehidupan yang penuh
berkah, kebahagiaan & penuh kasih sayang.
Bismillah..
