











Di ruang ilmu dan cita-cita, takdir mempertemukan kami dalam peran yang sederhana. Pertemuan itu tidak langsung menjadi cinta. Ia tumbuh perlahan, dalam batas dan kehati-hatian, dijaga oleh doa-doa yang tak banyak diketahui siapa pun.
Kami berjalan tanpa tergesa, memastikan bahwa yang tumbuh adalah kesungguhan, bukan sekadar rasa. Dari percakapan tentang hidup, tanggung jawab, dan masa depan, kami menemukan arah yang sama untuk bertumbuh, saling menjaga, dan memantaskan diri.
Dengan hati yang mantap dan niat yang lurus, kami memilih melangkah dalam ikatan suci pernikahan.
Karena kami percaya, cinta yang lahir dari kesadaran akan bertahan dalam ujian, menguat dalam doa, dan menemukan jalannya menuju ridha-Nya.
Dan hari ini, kami memilih satu sama lain bukan karena kebetulan, tetapi karena keyakinan.